Kamis, 29 November 2012

The end of my contract

Dear Mr. Sule,

Previously, thank you for the opportunity given to me to join us with this Company. Lots of things I got there. There are skills, knowledge, and a good working relationship until near the time my contract ends.
Sorry, if I have to ask the continuation of my future employment status after this contract expired on February 8, 2013. There are some things I would ask;

Sabtu, 28 Januari 2012

Puting Beliung di Pulau Harapan dan Kelapa

Sudah beberapa hari menjelang Imlek angin bertiup kencang dari arah barat ke timur. Hal ini mengakibatkan beberapa nelayan tidak dapat melaut, transportasi juga terganggu perjalanannya. Kapal feri tidak beroperasi demi keamanan. Kapal kayu (Ojek) sebutan orang pulau tetap beroperasi untuk melayani penumpang yang mempunyai kebutuhan mendesak ke pulau lain atau ke kota. Meskipun kapal ojek beroperasi namun lama perjalanannya tidak dapat diprediksi karena nahkoda selalu melihat keadaan angin di lapangan, jika dirasa aman kapal terus berjalan, namun jika dirasa kurang aman, nahkoda memilih singgah terlebih dahulu di pulau terdekat sampai situasi perairan dirasa aman baru dilanjutkan perjalanan ke pulau tujuan. Yang biasanya kapal mampu menempuh perjalanan selama 3-4 jam menjadi belasan jam jika cuaca sedang buruk.

***

Pagi ini kami berdua, aku dan Amel dapat undangan dari Bapak Camat Kepulauan Seribu Utara dalam rangka Ratek (Rapat Teknis) untuk membahas pengajuan program awal tahun. Alhamdulillah, kami senang menyambut undangan tersebut. Kami berdua tak sabar menunggu datangnya hari itu. Segala sesuatunya kami persiapkan dengan matang. Karena bagiku ini kesempatan yang baik untuk memperkenalkan diri serta program yang kami bawa untuk masyarakat Pulau Seribu Utara.

Acara seharusnya akan dimulai tepat pukul 11.00 WIB, tapi rencana tinggal rencana. Sampai pukul 11.15 WIB acara belum juga dimulai. Karena masih menunggu perwakilan dari Kelurahan Pulau Pramuka dan beberapa perwakilan dari dinas-dinas terkait.

Setelah menunggu beberapa saat, pihak kecamatan mendapatkan kabar bahwa mereka yang belum datang tidak dapat mengikuti rapat dikarenakan ombak dilautan yang lumayan tinggi, selain itu cuaca juga sedang tidak bersahabat untuk mengarungi lautan. Rapatpun dimulai dengan peserta dari Kelurahan Kelapa, Harapan, dan beberapa orang pejabat kecamatan Kepulauan Seribu Utara.

Rapat dibuka, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Camat Kepulauan Seribu Utara "Atok baroni". Sesion selanjutnya adalah pemaparan oleh masing-masing perwakilan kelurahan untuk menyampaikan usulan program yang telah disepakati bersama dari tingkat RT, RW, dan Kelurahan.

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, maka rapat di scors untuk istirahat (Isoma) dan rapat akan dimulai kembali pada pukul 13.00 WIB.Semua undangan dipersilahkan mengambil nasi kotak yang telah disediakan dan dilanjutkan dengan sholat. Saya dan Amel kebetulan tidak membawa mukena, maka kami pamit untuk sholat dzuhur di mess.

Kami buru-buru pulang ke mess agar bisa kembali tepat waktu. Keluar dari gerbang kecamatan, suasana langit mendung. Kami sempat memperhatikan pemandangan disekeliling jalan dari kecamatan ke pulau Kelapa dan Harapan ke arah laut. Warna airnya kehijauan dan langitnya agak kelam. Kami mencoba mempercepat langkah takut terjebak hujan diperjalanan.

Saat melintas diperbatasan antara Pulau Kelapa dan Pulau Harapan tiba-tiba situasi semakin gelap dan angin bertiup agak kencang. Dari situ kami memutuskan untuk berlari agar cepat sampai mess. Beberapa detik kemudian air laut mulai berhamburan seperti hujan, terbawa angin kedaratan. Aku dan Amel mulai ketakutan  karena ditengah-tengah jalan menuju Pulau Harapan tidak pagar pembatas atau pepohonan antara darat dan lautan.

Seper sekian detik tiba-tiba suasana menjadi gelap gulita, angin berhembus sangat kencang sampai-sampai tubuhku terseret dari tengah jalan sampai di tepi, nyaris masuk ke laut jika tanganku tidak menyambar batang pohon. Tidak tahu apa yang harus diperbuat yang ada hanya bisa istighfar dan memasrahkan segalanya pada yang Maha Kuasa. Karena dalam waktu sekejab pohon-pohon roboh, tumbang, dan patah. Tiang-tiang listrik rusak, papan petunjuk dan seng-seng beterbangan bagai kapas. Jalan seketika jadi buntu tertutup pohon-pohon yang roboh. Aku dan Amel lari tunggang langgang mencari celah yang bisa dilewati dibawah reruntuhan pohon-pohon, atap rumah dan benda-benda lainnya.

Dengan susah payah akhirnya kami bisa mencapai rumah warga, denagn tergopoh-gopoh kami memohon perlindungan pada rumah pertama yang kami singgahi. Ada seorang ibu dengan seorang anak dalam gendongannya keluaur dari rumah dengan tanpa ba bi bu, langsung menyeret Amel menjauh dari rumah tersebut karena menurut ibu tadi, disitu bukan tempat yang aman. Aku hanya bisa mengikuti dari belakang dengan pikiran yang entah tak karuan.

Akhirnya sampailah kami pada sebuah rumah yang dirasa aman untuk berlindung, tapi ternyata tiba-tiba pohon mangga besar roboh menimpa rumah warga di depan mata kepala kami. Innalillahi... Kami hanya bisa pasrah dengan semua ini. Orang-orang berlalu lalang sambil menangis tak karuan melihat rumah mereka hancur dalam sekejab.

Aku dan Amel mencoba menenangkan diri dan berusaha mengabarkan keadaan ini kepada keluarga dan pihak-pihak terkait.

Subkhanallah, kami setengah tidak percaya benar-benar mengalami peristiwa ini. Bencana Puting Beliung di Pulau Kelapa dan Harapan, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara Rabu, 25 Januuari 2012 sekitar pukul 12.30 WIB. Semoga kejadian ini bisa membuat kami sadar bahawa kita sangat kecil dihadapan-Nya. Ada kekuatan yang Maha dahsyat diatas segala-galanya. Kesombongan yang sering merajai setiap jiwa, tidak ada artinya lagi. Dari sini kita bisa mengambil banyak hikmah yang terkandung untuk sekedar merenung tentang apa yang telah kita perbuat selama ini atau bahkan lebih dari itu. Kita dibuatNya sadar bahwa hidup kita sudah ada yang mengatur, akan selalu ada peringatan/rambu-rambu jika kita mulai keluar dari alurnya. Kembalikan semuanya pada Sang Maha Kuasa, bahwa kita terlahir untuk mengabdi padaNya, jadi niatkan semua yang kita lakukan adalah untuk menggapai ridhoNya. Kita mulai dari diri sendiri untuk saling mencintai diri, sesama, dan lingkungan sekitar.











Sabtu, 03 Desember 2011

Rapat Koordinasi



1 Desember 2011, awal bulan yang indah, semoga menjadi pembuka hari-hari baru yang lebih baik. Kuawali dengan niat “lillahi Ta’alah…” moga penuh berkah. Betapa tidak,,, pagi ini kami diajak menghadiri Rapat Koordinasi Tingkat Kecamatan Pemberdayaan Masyarakat di Dalam Kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Awalnya kami ragu untuk menghadirinya, karena kami khawatir acara ini adalah rapat intern yang tidak bisa diikuti sembarang orang. Sehari sebelumnya kami memberanikan diri berkunjung ke kantor Taman Nasional untuk mematiskan perihal acara tersebut. Alhamdulillah, kami mendapat sambutan positif dari para pengelola Taman Nasional setempat. Mereka memperbolehkan kami hadir dalam acara tersebut karena kami mempunyai tujuan yang sama yaitu pemberdayaan masyarakat dan sekaligus untuk ajang mengenal dan dikenal masyarakat desa. Syukur Alhamdulillah, serasa mendapatkan pelukan hangat dari seorang sahabat setelah hampir dua bulan kami mencari sosok yang tepat untuk saling berbagi. Membicarakan segala sesuatu yang telah terjadi sebelum kami ada di sini sampai beberapa tahun ke depan yang berkaitan dengan masyarakat.

Positif thinking, adalah sesuatu yang terus kami bangun dalam menghadapi siapapun dan apapun. Dari situ kami berharap, selalu dimudahkan jalannya. Karena kami yakin sebagai manusia biasa, pastilah kami banyak kekurangan. Kami akan terus belajar dan belajar dengan siapapun yang kami temui, karena mereka adalah ladang ilmu bagi kami. Setiap kegiatan akan kami ikuti dengan senang hati, karena bagi kami, “setiap kegiatan adalah belajar”. Belajar menjadi lebih baik, berproses dengan alami dan mudah-mudahan benar-benar dari hati. Moga Allah meridhoi…

Jumat, 02 Desember 2011

LAYAKKAH ENGKAU KUPERCAYAI???

Manusia diciptakan sebagai mahluk individu sekaligus juga sebagai mahluk sosial. Maka tak dapat dipungkiri jika kita membutuhkan bantuan orang lain. Untuk menjalankan segala aktivitas, mulai dari sandang, pangan, papan, dan pekerjaan. Bahkan untuk hal-hal yang sepele sekalipun, misalnya saat kita sedih dan jauh dari keluarga, kita butuh seseorang untuk menguatkan hati. Maka kita perlu yang namanya teman untuk berbagi. Tapi sejauh mana kita boleh mempercainya? Apakah semua hal dari kita harus mereka tahu, dan begitu juga sebaliknya? Apakah semua benda yang kita miliki juga menjadi miliknya atau mungkin boleh sekedar memakainya bersama? Ada contoh kasus, yang mungkin bisa menjadi bahan renungan untuk kita bersama. Kejadian ini sudah lumayan lama, kira-kira 2 tahun yang lalu. Kenapa aku tertarik untuk menuliskannya? Karena aku tak ingin kejadian ini terjadi pada kalian.

****

Ada 3 orang mahasiswi sebuah perguruan tinggi terkemuka di Jawa Tengah, melakukan program magang di sebuah rumah sakit swasta di kota Yogyakarta. Mereka mencoba membangun komunikasi yang baik agar dalam waktu 3 bulan ke depan dapat mereka lalui dengan baik. Mereka sengaja mencari kos-kosan dalam satu rumah dengan harapan lebih mudah melakukan koordinasi. Tiba-tiba seorang mahasiswi yang bernama Titis, mendapat telepon dari saudaranya "Mbak Icha" yang kebetulan  mengambil program double degree di sebuah universitas negeri terkemuka di Yogyakarta. Mb Icha mengajaknya tinggal di kontrakannya, biar lebih dekat sama anaknya. Titis agak berat meninggalkan kedua temannya, selain itu uang DP juga sudah diserahkan ibu kos, tidak mungkin untuk diminta kembali. Terlebih lagi, dia takut jika merepotkan mb Icha dan keluarganya, apalagi setiap week end suami mbak Icha datang ke kontrakan. Tapi ajakan mbak Icha tak dapat ditolaknya, akhirnya Titis berpamitan pada kedua temannya "Vica dan Dian".

Kamis, 01 Desember 2011

AKU MENYAYANGIMU...


11 Oktober  2011, tepat ba’da maghrib aku terhanyut dalam dekapan hangat ayah tercinta. Moment seperti  ini jarang sekali kudapati. Maklum, ayah bukan tipe orang yang romantis (maksudnya, beliau pandai memendam perasaan, entah sedih atau gembira, takmudah kutangkap ekspresinya). Tapi sore ini aku benar-benar merasa terharu dibuatnya. Saat aku hendak berpamitan untuk berangkat bekerja ke sebuah kota yang lumayan jauh jarak tempuhnya, dan kemungkinan dalam waktu lama tidak pulang ke kampung halaman. Beliau memberikan beberapa “wejangen” sebelum melepas kepergianku. Insyaallah kata-kata beliau akan selalu kuingat di tanah rantau nanti, “jaga diri baik-baik, di manapun kamu berada yakinlah bahwa Allah bersamamu! Doa Ayah, selalu tercurah untuk segala kebaikanmu.” Ku hanya mampu mengiyakan setiap perkataan yang serasa hangat harum nafasnya, membelai pipi sebelum masuk ke telingaku. Kuperhatikan dengan dekat wajahnya, Ayah…tanpa kusadari kerut dikeningmu mengatakan bahwa kau cukup berat melepasku. Gumamku dalam hati, ”Yakinlah… aku akan selalu berusaha memegang janji dan tanggung jawab.” Kucium kedua tangannya sebagai tanda “takdzim” dan memohon restunya. Ayah menyambutnya dengan kecupan hangat di keningku diiringi lembutnya doa yang beliau mintakan pada Allah untukku. Meski halus, aku bisa merasakannya.

Minggu, 11 September 2011

Kupatan (Peringatan di bulan Syawal) 1432 H

google.co.id
Adzan subuh sudah berkumandang tepat di tujuh hari pasca lebaran. Bergegas ku bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Air telah membasuh anggota wudluku, sejuk...rasanya. Alhamdulillah, sholat subuh pun sudah tertunaikan. Aku bangunkan adikku tersayang, "Ahmad" namanya. Tak butuh waktu lama untuk membuatnya terbangun memenuhi panggilan-Nya. Kali ini ada yang berbeda pada dirinya, Ia habiskan subuh di kamar belakang tempat sholat keluarga. 

Aku tidak lupa jika hari ini ada ritual "kupatan" di setiap Masjid, Mushola, ataupun Surau yang setiap satu tahun sekali diperingati, tepatnya di bulan Syawal tujuh hari setelah iedul fitri. Kuingat kemarin Adek bilang, "Mbak, kupatan besok aku mau ikut ke mushola depan rumah." Kujawab dengan tegas, "Ya, harus!"

Selasa, 12 Juli 2011

Rame-rame ke Malang


Hujan deras mengguyur kotaku di malam Selasa, 23 Maret 2010. Namun aku harus keluar rumah dengan mengendarai sepeda motor untuk memberikan les privat pada "Ernik", Siswa kelas II SD yang sudah 1 tahun ini belajar baca tulis padaku. Les hari ini sengaja kuajukan 1 jam, karena aku dan teman-teman (Wulan, Santi, Ucup, & Aat) telah sepakat akan melakukan perjalanan ke Kota Malang dalam rangka menghadiri acara resepsi pernikahan teman kami "Endah".
Simak perjalanan kami selanjutnya di http://ceritafai.multiply.com/journal/item/14/Rame-rame_ke_Malang