Sabtu, 25 September 2010

Dahulu dan Kini

Rasanya sudah lama sekali aku tak meluangkan waktu untuk menulis. Sampai banyak ide yang tak tersalurkan. Maklum dipertengahan puasa kemaren "si Mbak" yang biasa bantu-bantu di rumah pulang ke kampung halamannya dan tidak kembali lagi. Hemmm,,, tak perlu ku ceritakan alasannya disni, anggap saja sudah tak ada kecocokan lagi diantara kami. Semoga dia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi. Karna ku tahu dia salah satu tulang punggung dalam keluarganya.
Kini kegiatanku sehari-hari bertambah, ku berusaha menjalani semua itu tanpa beban, agar semua terasa ringan. Yaahh...itung-itung untuk pembelajaran juga. Nantinya kalau aku sudah berkeluarga, hidup bersama orang yang saat ini entah ada di belahan bumi mana dan entah dengan berapa buah hati yang akan Dia amanatkan pada kami.
Aku hanya ingin menjalani hidup ini apa adanya, seperti air yang mengalir. Patuh pada hukumnya, tetap mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah meski ada penghalang di depannya, ia akan mencari celah. Mungkin kurang lebih seperti itulah, biarkanlah semua berjalan sesuai rencananya. Karena sebagai manusia ku hanya mampu berusaha dan berdoa. Berusaha untuk lebih baik dari sebelumnya dan lebih optimis dalam menjemput rahmatNya.

Hemm...dari semua kesibukan yang ku jalani sebulan terakhir ini banyak pelajaran yang bisa kuambil, diantaranya:
1. Kita sebagai manusia benar-benar diciptakan sebagai mahluk sosial, yang tak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Sedikit flashback, dulu saat "si Mbak" masih bantu-bantu di rumah, aku bisa menjalankan segala aktifitasku seperti kapan aku harus bangun atau berangkat tidur, pergi dan pulang rumah sesukaku, tanpa harus dipusingkan urusan rumah yang tiada berkesudahan. Apalagi ada keponakan yang super aktif membuat rumah berantakan. Ayah ibunya sibuk kerja di luar, pulang seakan tak ada cukup waktu dan tenaga menemaninya bermain. Meski berjibun mainan tradisional dan modern berserakan disetiap sudut ruangan. Dulu semua itu menjadi tanggung jawab "si Mbak", kita hanya bantu kekurangannya di sana sini. Tapi kini secara otomatis semua itu kan jadi rutinitasku, yang suka ga suka harus ku kerjakan dengan penuh keikhlasan sebagai tanggung jawab anak perempuan pengganti ibunda.
Ya Allah semoga setiap detik yang terlewatkan untuk semua ini hanya untuk mengharap ridho-Mu, meski dalam hal ini aku masih dalam tahap belajar ilmu ikhlas.
2. Betapa ku sangat menaruh hormat pada sosok "Ibu" yang kini hanya akan hadir dalam kenanganku. Ibuku adalah teladan bagiku. Sesosok wanita perkasa namun lembut penuh kasih. Kasihmu takkan terbalas dan takkan ada yang dapat menggantikannya. 
Beberapa puluh tahun silam, masih ku ingat jelas disetiap azan subuh belum dikumandangkan, engkau telah terjaga dengan segala aktifitasmu yang telah menjadi rutinatas dalam hidupmu. Dikala itu meski semua belum bisa kumengerti maksud dan tujuanmu, bersujut sampai menitik air mata di pagi buta, merendam pakaian  kotor milik sekeluarga, dan menyiapkan sarapan untuk kami anak-anak dan suamimu. Setelah jamaah subuh di mushola kau pamitan pada Bapak yang juga bersiap ke kebun dan kami anak-anakmu yang masih terlelap di balik selimut. Diam-diam ku mengamatimu dari balik kelambu yang usang, entah telah berapa tahun terpasang di kamar ini. Saat itu yang ada dalam pikiran anak yang belum genap 7 tahun hanyalah, "ngapain ibu susah payah bangun pagi melakukan semua ini, bukankah bapak sudah dapat gaji, katanya PNS, selain itu masih juga rajin ke kebun menanam sayur dan buah?" pikirku polos, itu semuakan cukup untuk makan kami. Kenapa Ibu harus capek-capek menggendong dagangan kepasar, karena waktu itu belum ada angkutan di desa kami, jalannya saja masih sempit dan berlumpur dimusim hujan. 
My sister graduation
Tapi kini aku mengerti semua itu demi kami, buah hatimu. Engkau tak ingin kami berbuat serupa denganmu. Katamu setiap menasehati kami yang enggan belajar, "Nang, nok...wes ngemongno makmu sing rekoso ngene, kowe kabeh kudu sregep sinau, ben sesok iso dadi wong sing mulyo dunyo lan akherote." Kata-katanya semakin parau di penghujung kalimat, menandakan bahwa beliau sungguh berharap dan menyesali masa mudanya yang tak beruntung. Sejak saat itulah ada janji terpatri di hati untuk menjalani hidup lebih baik dari hari sebelumnya. 
Ibu...perlu kau tahu kini anak-anakmu insyaallah telah tumbuh sesuai pengharapanmu dalam doa-doa yang kau panjatkan disetiap helaan nafasmu. Kami bangga lahir dari wanita setangguh dirimu. Kiriman doa akan selalu tercurah untukmu sebagai tanda bakti kami atas setiap tetes keringat dan tarikan nafasmu saat menyemai benih yang belum sempat kau menuainya sendiri.
3. Menjadikan aku menghargai waktu yang telah Allah berikan padaku. Karena sesungguhnya waktu akan terus melaju tanpa mau berjalan kebelakang sedetikpun. Aku berusaha mengerjakan sesuatu yang bisa ku kerjakan saat ini tanpa harus menunggu nanti. Karna kini ku tahu waktu yang akan datang adalah misteri, entah apa yang akan terjadi kedepan-Nya tak ada yang tahu.


1 komentar: